Kamis, 31 Desember 2015

Tahun Baru 2016


Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.
Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu
Seperti kita ketahui, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian


     Kematian adalah suatu kepastian. Seperti hukum matematika. Tak seorangpun dapat lepas dari suratan ini. Burung elang yang bebas berkelana menjelajah jagad raya suatu saat juga akan jatuh dan terkapar di atas tanah.

    Tak ubahnya seperti manusia. Bila demikian, haruskah seseorang takut kepada kematian sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran? Seperti kisah Silfi, seorang karyawan swasta asal Bangka Belitung. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

    Sekian tahun merantau, saya dapat menghirup udara Jakarta dengan nyaman, seperti layaknya gadis-gadis yang lain. Atribut jilbab yang menutupi kepala semakin menenangkan jiwa. Setidaknya saya bisa menghindari tatapan jalang lelaki hidung belang, yang dengan seenaknya memelototi wanita yang tidak menutup aurat.

     Kegamangan yang sempat menghantui, dulu sebelum berangkat ke Jakarta, sirna bersamaan dengan berjalannya waktu. Hingga muncullah suatu perasaan aneh yang menyebar dalam jiwa. Perasaan takut pada kematian, itulah awal derita yang sempat menghimpit dada sebulan lamanya.

Februari yang Menegangkan.

    Berawal dari dirawatnya salah seorang kerabat tante di rumah sakit yang biasa saya panggil dengan nenek. Keadaannya sudah semakin kritis. Sehingga tante kembali berniat membesuk nenek. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah sempat menjenguk nenek, tapi karena keadaannya yang saat itu boleh dibilang sudah sangat kritis, saya berniat kembali menengoknya.
    Bertiga dengan tante dan anaknya, Zulfa, kami berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Sesekali berpapasan dengan perawat yang tergopoh-gopoh mendorong pasien yang sudah kritis. Hingga ketika sampai di ruangan nenek, saya tidak diizinkan masuk. Itu memang peraturan rumah sakit bahwa selain keluarga pasien tidak sembarang orang dibolehkan masuk.

     Tidak masalah, pikir saya. Dengan santai saya berjalan ke ruang tunggu, sementara Tante dan Zulfa bergegas masuk ke dalam ruangan. Senyap, saya tenggelam dalam lamunan. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat tante berjalan tergopoh-gopoh dari ruangan nenek. Raut mukanya sendu, menyiratkan sesuatu telah terjadi di sana.

     Benar saja, “Nenek telah meninggal,” ujar tante lirih. “Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” gumam saya kemudian. Nenek yang baik hati itu telah pergi mendahului kami, Meski berbeda agama, tapi saya merasa kehilangan.

Selasa, 06 Oktober 2015

MEMBONGKAR MITOS BULAN SURO

Hampir mirip dengan ritual Suro yang dilakukan masyarakat negeri ini, Mesir dahulu punya kebiasaan serupa. Ada ritual persembahan tumbal ke Sungai Nil. Tumbalnya adalah seorang gadis yang masih perawan, lalu dihiasi dengan pakaian dan perhiasan yang bagus dan mewah, sebelum dilemparkan ke sungai Nil.
 
Penyikapan yang salah terhadap kedatangan bulan Suro telah melahirkan keyakinan, mitos dan ritual yang menjerumuskan kepada kesyirikan. Kita harus tahu mengapa ritual-ritual itu sangat berbahaya bagi aqidah kita. Mari kita bongkar mitos bulan Suro sebelum mitos itu membongkar iman kita.
Dalam bulan Suro, ada ritual pemandian pusaka-pusaka dan benda-benda yang dikeramatkan. Ritual itu muncul, karena sikap yang berlebihan terhadap barang-barang tersebut. Masih banyak masyarakat yang meyakini bahwa di setiap benda-benda ada penunggunya. Yang membuat benda tersebut lebih ampuh dan sakti dibanding benda-benda lainnya yang sejenis. Mereka khawatir – terutama pemiliknya – kalau tidak menyediakan sesajen atau melakukan ritual pemujaan, penunggunya tidak betah atau kabur meninggalkan benda tersebut, akhirnya keampuhannya dan kesaktiannya sirna, atau membikin ulah.
Itulah bentuk pengagungan dan ketakutan yang ditujukan kepada selain Allah. Dalam lslam hal itu termasuk bagian dari bentuk kesyirikan. Rasulullah bersabda: “Siapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah syirik.” (HR. Ahmad). Di riwayat lain: “Siapa yang bergantung pada sesuatu maka diserahkan kepadanya (Allah berlepas diri dari orang itu).” (HR. Tirmidzi).

Kamis, 27 Agustus 2015

LARANGAN MEMINTA PERLINDUNGAN PADA JIN



Pembaca yang budiman,
Sesungguhnya Allah   berfirman menceritakan perihal jin :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin ayat 6)
Ibnu Katsir  berkata, “Maksudnya, kami beranggapan bahwa kami mempunyai kelebihan di atas manusia, karena ketika turun ke suatu lembah atau tempat angker dan yang sejenisnya, mereka meminta perlindungan kepada kami. Sebagaimana kebiasaan bangsa Arab di masa jahiliyyah, mereka meminta perlindungan kepada penguasa (dari kalangan jin) tempat itu supaya tidak berbuat jahat kepada mereka, sebagaimana halnya ketika salah seorang dari mereka memasuki negeri musuhnya dengan pengawalan ketat dari para serdadunya. Tatkala jin melihat bahwa manusia meminta perlindungan kepada mereka dikarenakan takut, maka jin-jin tersebut semakin membuat mereka merasa semakin takut, segan, ngeri dan waswas, sehingga mereka menjadi manusia yang paling takut dan sering meminta perlindungan kepadanya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Qatadah  , “Maka jin-jin menambah dosa dan kesalahan bagi mereka, sehingga jin semakin berani kepada mereka.”
As-Suddi berkata, “Seseorang yang bepergian dengan keluarganya, dia sampai pada suatu tempat dan dia singgah di situ lalu ia berkata, ‘Saya berlindung kepada penguasa lembah ini dari kalangan jin, supaya saya, harta, anak atau binatang ternak saya tidak diganggu.’ Menanggapi hal ini Qatadah berkata, ‘Jika manusia meminta perlindungan kepada selain Allah, niscaya jin tersebut akan menambah dosan dan kesalahan mereka’.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata, “Sebenarnya bangsa jin takut kepada manusia, sebagaimana manusia takut-bahkan lebih takut-kepada mereka.”
Apabila manusia berhenti pada suatu lembah, sebenarnya para jin kabur. Tetapi kemudian pemimpin mereka (manusia) berkata, “Kami berlindung kepada penguasa lembah ini.” Maka jin mendengarnya dan berkata, “Sepertinya mereka takut kepada kita, sebagaimana kita takut kepada mereka.” Akhirnya, jin-jin ini mendekati mereka, dan menimpakan kegilaan dan kedunguan kepada mereka (kesurupan).”
Demikianlah, meminta perlindungan kepada jin termasuk perbuatan syirik, dan Allah  telah memberikan ganti yang lebih baik kepada kita. Diriwayatkan dari Khaulah bin Hakim radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang memasuki rumah dan berdoa:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التّآمَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya’
Niscaya dia tidak akan ditimpa marabahaya hingga dia beranjak dari tempatnya tersebut.” (HR. Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan di dalam shahih-nya, “Dari Abu Hurairah  , dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, tadi malam saya telah disengat kalajengking.’ Beliau  bersabda, ‘Seandainya sore harinya kamu mengucapkan :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التّآمَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
In sya Allah dia tidak akan menyakitimu’.”
Pembaca yang dirahmati Allah,
Abu dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Umar  dia berkata, “Setiap Rasulullah melakukan safar dan tiba waktu malam, beliau berdoa:
يَا أَرْضُ رَبِّيْ وَرَبُّكِ اللهُ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيْكِ وَشَرِّ مَا يَدُبُّ عَلَيْكِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ أَسَدٍ وَأَسْوَدٍ وَمِنَ الْحَيَّةِ وَالْعَقْرَبِ وَمِنْ سَاكِنِ الْبَلَدِ وَمِنْ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
“Wahai bumi, Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu, kejahatan makhluk yang ada di dalammu dan kejahatan makhluk yang merayap di atasmu. Aku  berlindung kepada Allah dari singa, warna hitam, kalajengking dan ular, dari penghuni negeri dan dari yang bias beranak dan anak yang dilahirkannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar   menghasankan hadits ini, beliau berkata; ‘Karena sebagian hadits ini diriwayatkan dengan metode tahdits (cerita).

Al-Khatthabi   berkata, “Adapun maksud dari ‘penghuni negeri’ adalah jin yang menghuni bumi. Sedangkan negeri adalah tempat sarang-sarang binatang, meskipun di sana tidak terdapat bangunan dan perumahan. Barangkali yang dimaksud dengan ‘ayah’ di sini adalah iblis dan ‘anak yang dilahirkannya’ adalah setan-setan.”

Imam Nawawi   berkata, “Warna hitam adalah manusia, karena setiap manusia dinamakan hitam.”

Diriwayatkan dari Kharim bin Fatik bahwa dia berkata, “Saya kehilangan unta, lalu saya bergegas mencarinya, hingga ketika saya sampai di sudut negeri Irak, kendaraan saya mogok, lalu saya mengikatnya, kemudian berdendang, ‘Saya berlindung kepada penguasa lembah ini, saya berlindung kepada pembesar lembah ini.’ Setelah itu saya meletakkan kepala di atas unta, tiba-tiba ada suara menyeru dan berkata di malam hari :

‘Ketahuilah, berlindunglah hanya kepada Allah Sang Pemilik Kemuliaan
Lalu bacalah beberapa ayat dari Surat Al-Anfal…
Esakanlah Allah, dan jangan kamu pedulikan kengerian bangsa jin.”

Maka, saya pun bangun dalam keadaan terkejut, lalu kukatakan:
“Hai sang penyeru, apa yang engkau katakan,
Apakah petunjuk atau penyesatan?!”

Dia menjawab pertanyaan saya:
“Ini adala utusan Allah yang mempunyai banyak kebaikan
Dia mengutusnya untuk mengajak kepada keselamatan
Dan mencegah manusia dari kehinaan
Dan menyuruh untuk shalat dan berpuasa.”
Maka, inilah sebab masuk Islamnya Kharim bin Fatik.

Imam Qurthubi   berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa meminta perlindungan kepada jin dan tidak meminta perlindungan kepada Allah adalah kufur dan syirik.”*

Pembaca yang berbahagia,
Dasar terapi yang dilakukan para dukun dan tukang sihir adalah meminta pertolongan kepada jin dan setan, dan ini adalah perbuatan syirik; karena hal itu termasuk meminta pertolongan kepada selain Allah. Sedangkan yang lebih parah dari itu, bahwa setan-setan itu tidak akan membantu seorang tukang sihir dan dukun, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, hingga dia kafir kepada Allah. Semakin seorang dekat dengan tukang sihir dan dukun, dia pun semakin bertambah durhaka kepada Allah swt. Maka, setan-setan pun semakin bertambah dekat dan patuh kepadanya. Misal, sebelum melakukan ritualnya seorang dukun diharuskan menempelkan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah kakinya lalu masuk WC, yang mana perbuatan semacam ini jelas mengandung pelecehan terhadap Al-Qur’an dan kekufuran. Na’udzubillahi min dzalik.

Semoga kita semua terhindar dari perbuatan meminta perlindungan kepada para jin dan setan dimanapun dan kapanpun. Karena meminta perlindungan dan pertolongan adalah hal khusus yang harus ditujukan hanya pada Allah saja, sebagaimana terbiasa kita melafalkannya baik di dalam shalat atau di luar shalat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
 “Hanya kepada Mu lah kami menyembah dan hanya kepada Mu lah kami memohon pertolongan.”
Wallahu a’lam bis shawab.

Oleh Agung Al-Mumtazy
*Dikutip dari buku Ruqyah Jin, Sihir dan Terapinya karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali
Graha Ruqyah Syar’iyyah dan Bekam Majalah Ghoib Jakarta Hp. 0812 8281 1254, 0815 11311 554

Kamis, 20 Agustus 2015

BERKENALAN DENGAN JIN QORIN KITA



Dari Abdullah bin Mas’ud berkata,”Tidaklah satupun dari kalian kecuali ia telah di beri Qorin dari jin dan Qorin dari malaikat. Para sahabat bertanya,”Begitu juga kepadamu,Ya Rosulullah?” Beliau bersabda,”Kepadaku juga,hanya saja Alloh telah menolongku untuk menghadapinya,dan tidaklah ia (Qorin) menyuruhku kecuali kepada kebenaran” (HR.Ahmad)
            Bila kita mengalami pergolakan batin saat menghadapi masalah,yang dituntut untuk segera menentukan sikap,atau saat menghadapi suatu pilihan yang membuat pikiran bimbang,tiba-tiba terasa dalam diri kita seperti ada makhluk yang membisikkan sesuatu untuk memilih pilihan tertentu, atau saat azan berkumandang, muncul dalam benak kita untuk segera meninggalkan pekerjaan lalu menunaikan sholat, tapi pada saat yang sama sakan ada yang membisikkan ,”Nanti saja…!selesaikan pekerjaan dulu”
Dan bisikan itu ternyata muncul dari sosok makhluk yang berbeda yang senantiasa menyertai kehidupan kita, yaitu makhluk yang bernama malaikat dan jin.

DALIL KEBENARAN QORIN PADA MANUSIA

            Setiap kita pasti ditemani teman yang akrab dan dekat yang disebut Qorin,satu dari malaikat dan satu dari golongan jin atau syaitan.
Sebagai mana yang ditegaskan Rosululloh saw dalam riwayat Ahmad diatas.
            Yang dimaksud dengan pernyataan Rosululloh saw pada bagian akhir dari hadits diatas adalah Qorin beliau dari golongan jin atau syaitan.
Alloh swt telah memberi perlakuan khusus kepada beliau dalm menghadapi sepak terjang Qorin jin yang dimilikinya,sehingga jin tersebut masuk Islam dan tidak mempengaruhi beliau kecuali kepada kepada kebaikan dan kebenaran.
            Dan hadits tersebut lebih merupakan peringatan keras akan bahaya fitnah (gangguan ) Qorin dan was-wasnya serta penyesatan yang dilakukannya.
Rosululloh saw memberi tahukan hal itu agar kiat lebih waspada dan melakukan pembentengan dari kejahatannya.
            Dalam masalah ini ada ulama yang berpendapat bahwa peluang masuknya jin Qorin ke Islam bukan hanya berlaku untuk jin Qorin Rosululloh saw pribadi, Setiap kita bekesempatan untuk mengislamkan jin Qorin sebagaiman yang dialami Rosululloh.
(DR.Umar Sulaiman al-Asyiqar dalam bukunya”Alamul JinniwaSyayatin”)
Tetapi pendapat tersebut dibantah tegas oleh Syaikh Wahid Abdus Salam Bali dalam bukunya “Wiqayatul Insan minal Jinni was Syaithan :39-40”
            Beliau beralasan bahwa terlihat jelas dalam susunan redaksi beberapa hadits yang menjelaskan masuk Islamnya Qorin jin mengiringi Rosulullah sifatnya khusus, hanya berlaku kepada jin Qorin Rosulullah saw. Kenyataannya tidak ada satu dalilpun yang menyatakan bahwa Islamnya jin Qorin itu juga berlaku pada selain Qorin jin Rosulullah saw.

Kamis, 19 Maret 2015

BOLEHKAN MINTA DIRUQYAH


OLEH. Ustadz Fadlan Abu Yasir Lc
SALAH FAHAM!!! KALAU MINTA RUQYAH BERARTI JATAH MASUK SURGA TANPA HISAB TANPA ADZAB DIHAPUS!
Saya (Ustadz Fadlan Abu Yasir Lc) langsung mendengarkan ceramah Syekh Shalah ‘Abud di Masjid Nabawi, beliau menjelaskan maksud hadits 70ribu umat ini masuk surga tanpa hisab tanpa adzab. Sifat mereka tidak selalu minta ruqyah, tidak tathayyur (percaya khurafat), tidak berobat dengan kayy (besi panas), dan mereka selalu tawakkal kepada tuhan mereka. Maksud laa yastarquun adalah: mereka tidak bergantung kepada ruqyah orang lain, karena hal itu akan mengurangi tawakkal dan usaha.
Empat sifat yang menonjol dari 70ribu yang masuk surga tanpa hisab tanpa adzab tidak berarti hanya empat itu saja. Karena seseorang yang hanya berpegang kepada 4 sifat itu merasa cukup untuk masuk surga tanpa hisab tanpa adzab, juga tidak difatwakan oleh siapapun. Bagaimana kalau dia masih takabbur, memutus silatur rahim, korupsi, makan riba, apakah dia bebas masuk surga tanpa hisab tanpa adzab?
Manhaj ulama salaf dalam memahami hadits diruju’ ahli hadits yang tsiqah.
Sebenarnya dibolehkan minta ruqyah berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW:
1- Rasulullah SAW memerintah istri beliau ‘Aisyah RA untuk minta ruqyah karena pengaruh ‘ain (pandangan mata orang yang hasad):
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ الْعَيْنِ .
Dari ‘Aisyah RA berkata: “Aku pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW agar aku minta ruqyah dari ‘ain. (HR. Muslim)
2- Rasulullah SAW memerintah istri beliau Ummu Salamah RA:
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِجَارِيَةٍ فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بِوَجْهِهَا سَفْعَةً فَقَالَ بِهَا نَظْرَةٌ فَاسْتَرْقُوا لَهَا يَعْنِي بِوَجْهِهَا صُفْرَةً.

Jumat, 23 Januari 2015

Bekam Kepala Tanpa Harus Mencukur Rambut

Tahukah Anda, bahwa manfaat bekam sangat dahsyat? Sampai-sampai semua penyakit dapat diselesaikan dengan solusi terapi bekam. Bekam saat ini sedang marak dilakukan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan titik bekam yang paling dahsyat adalah di kepala.
Bekam ini bermanfaat membantu menyembuhkan berbagai penyakit, baik yang berhubungan dengan kepala ataupun yang tidak. Bekam sendiri yaitu pengobatan kuno yang terkenal di seluruh dunia. Metode pengobatan yang dilakukan dengan bekam ini yaitu dengan menghisap. Pengobatan ini telah banyak dilakukan di banyak negara, seperti Cina, Eropa, India dan juga Amerika.

Manfaat Bekam Bagi Kesehatan

Manfaat Bekam Bagi Kesehatan ini telah banyak dibuktikan, pengobatan ini dilakukan dengan cara menyedot sebagian permukaan kulit dengan menggunakan alat khusus. Setelah beberapa saat, maka akan muncul darah yang keluar dari bawah kulit.
Tetapi pada dasarnya bekam terbagi atas 2 jenis, yaitu bekam basah dan juga bekam kering. Bekam yang mengeluarkan darah yaitu bekam basah sedangkan bekam kering hanya menyedot tanpa mengeluarkan darah. Keduanya sama-sama dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Manfaat Bekam di Kepala